Orang yang banyak protes di gereja kebanyakan penonton
30 Apr 2026
Dibaca 13 kali
Renungan
Klik untuk memperbesar
ORANG YANG BANYAK PROTES DI GEREJA, KEBANYAKAN PARA PENONTON
Dalam kehidupan bergereja, sering kali yang paling banyak protes justru bukan mereka yang paling banyak melayani, melainkan mereka yang hanya menjadi penonton. Mudah mengkritik dari bangku jemaat, tetapi tidak mudah terlibat, berkorban, dan memikul tanggung jawab pelayanan.
Ada orang yang selalu sibuk menilai: musik kurang bagus, khotbah terlalu panjang, pendeta kurang ramah, pelayanan tidak maksimal. Namun ketika diajak membantu, jawabannya selalu sibuk, tidak sempat, atau merasa itu bukan tugasnya.
Gereja bukan tempat untuk menjadi penonton rohani yang hanya datang, duduk, menilai, lalu pulang. Gereja adalah tubuh Kristus, di mana setiap orang dipanggil untuk mengambil bagian, melayani, dan membangun bersama.
Tentu kritik yang sehat itu perlu, tetapi kritik tanpa kontribusi sering kali hanya menjadi keluhan kosong. Orang yang benar-benar mengasihi gereja tidak hanya pandai menunjuk kekurangan, tetapi juga bersedia menjadi bagian dari solusi.
Mereka yang melayani tahu bahwa membangun gereja tidak semudah berbicara. Ada air mata, pengorbanan, kesabaran, dan proses panjang yang sering tidak terlihat. Karena itu, sebelum banyak protes, belajarlah lebih dulu untuk terlibat.
Jemaat yang dewasa bukan hanya pandai menuntut, tetapi rela memberi diri. Bukan hanya bertanya, “Mengapa gereja tidak begini?” tetapi juga, “Apa yang bisa saya lakukan untuk gereja ini?”
Sebab gereja tidak dibangun oleh penonton, tetapi oleh orang-orang yang mau turun tangan dan melayani dengan kasih.
“Demikian pula halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yakobus 2:17)