Pada tahun 1947, seorang penggembala Badui sedang melempar batu ke dalam gua-gua di dekat Laut Mati ketika ia mendengar suara pecahnya tembikar. Di dalam sebuah gua, ia menemukan kendi-kendi tanah liat yang berisi gulungan kuno yang telah disembunyikan selama hampir 2.000 tahun.
Selama sembilan tahun berikutnya, para arkeolog menemukan sekitar 900 manuskrip di sepanjang 11 gua di kawasan Qumran. Manuskrip-manuskrip tersebut berasal dari periode antara 250 SM hingga 68 M dan mencakup fragmen dari hampir setiap kitab dalam Perjanjian Lama, termasuk salinan lengkap Kitab Yesaya yang ditulis lebih dari 100 tahun sebelum kelahiran Yesus.
Para sarjana kemudian melakukan perbandingan yang mengubah pemahaman tentang Alkitab selamanya. Mereka membandingkan Great Isaiah Scroll (gulungan Yesaya dari Gua 1) dengan Kitab Yesaya yang kita gunakan hari ini, teks yang terpisah oleh lebih dari 1.000 tahun proses penyalinan.
Hasilnya sangat menakjubkan: gulungan tersebut identik kata demi kata dalam lebih dari 95% teksnya. Lima persen sisanya hanya terdiri dari variasi ejaan yang jelas dan kesalahan pena kecil, tidak ada satu pun yang mengubah doktrin, nubuat, atau ajaran penting.
Penemuan ini menjadi salah satu bukti ilmiah terkuat bahwa teks Perjanjian Lama telah dilestarikan dengan luar biasa teliti selama berabad-abad.
Sumber:
- Penelitian arkeologi resmi Qumran (1947–1956)
- Israel Museum Jerusalem
- Gleason Archer, A Survey of Old Testament Introduction