Jangan pernah merasa telah menjadi manusia suci hanya karena dahi terlihat tunduk di tempat ibadah, jika saat keluar dari gedung Gereja, tanganmu berubah menjadi cakar yang siap merampas hak orang lain. Kita adalah penjahat religius yang paling lihai; fasih membicarakan kasih Tuhan dalam pergaulan, namun sangat rakus saat menghitung keuntungan di atas penderitaan sesama. Apa gunanya doa-doa panjangmu jika lidahmu tetap menjadi belati yang menguliti kehormatan teman sejawat saat mereka tidak ada? Sungguh, Tuhan sedang mual melihat ibadahmu yang kau jadikan topeng untuk menutupi busuknya caramu mencari makan.
Dunia dan pergaulan hari ini telah menjadi panggung sandiwara bagi mayat-mayat berlabel religius. Di media sosial, kutipan ayat dipamerkan sebagai perhiasan, namun di dunia nyata, integritas kita lebih murah daripada recehan. Kita lebih takut kehilangan jabatan atau muka di depan relasi daripada takut jika Tuhan melihat kelicikan di balik senyum bisnis kita. Kita merasa telah menyuap Tuhan dengan sumbangan sosial yang receh, lalu merasa berhak menjadi "tuhan kecil" yang sombong, pelit, dan tak tersentuh di lingkungan masyarakat.
Berhentilah membual tentang iman jika hidupmu masih penuh dengan tipu daya dan sikut-menyikut demi posisi. Tuhan tidak butuh sisa-sisa kebaikan dari hati yang bercabang antara altar dan pasar. Jika caramu memperlakukan saudaramu, bawahanmu, rekan kerjamu, rekan sepelayananmu atau tetanggamu masih sama jahatnya dengan orang yang tak bertuhan, maka setiap kata religius yang keluar dari mulutmu adalah racun yang menjijikkan. Jangan kira Tuhan bisa disuap dengan label "orang baik" yang kau bangun dengan keringat kepalsuan. Surga sedang menangis melihat betapa rajinnya kau beragama, namun betapa kejamnya kau dalam memanusiakan manusia.
Sekarang, telanjangilah egomu di tengah keramaian duniamu. Jangan pulang membawa rasa bangga bahwa kau telah berbuat baik, tapi pulanglah dengan batin yang remuk karena menyadari betapa jauhnya hidupmu dari kebenaran yang kau bicarakan. Biarkan kesombongan yang kau pelihara di meja jabatan itu mati dan membusuk hari ini juga. Sebab jika hari ini hatimu tidak hancur karena menyadari kemunafikanmu dalam bergaul, maka ibadahmu hanyalah sampah yang berbau busuk. Kau tidak sedang mengabdi pada Tuhan, kau hanya sedang memuja dirimu sendiri dalam balutan ritual yang sia-sia di tengah hiruk pikuk dunia yang sedang kau tipu.
“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” — Hosea 6:6