Merasa wakil Tuhan, lantas memimpim semena-mena

30 Apr 2026
Dibaca 8 kali
Renungan
Merasa wakil Tuhan, lantas memimpim semena-mena
Klik untuk memperbesar
MERASA WAKIL TUHAN, LANTAS MEMIMPIN SEMENA-MENA

Ada pemimpin rohani yang lupa bahwa dirinya hanyalah hamba, bukan pemilik umat Tuhan. Ketika seseorang merasa dirinya “wakil Tuhan” lalu memakai posisi itu untuk memerintah semena-mena, membentak, merendahkan, dan memanfaatksn jemaat, itu bukan kepemimpinan rohani—itu kesombongan yang dibungkus jabatan.

Menjadi pemimpin gereja bukan berarti kebal dari koreksi. Pendeta, penatua, pelayan, semuanya tetap manusia yang harus tunduk pada firman Tuhan, bukan menjadikan jabatan sebagai alat untuk menakut-nakuti orang lain. Otoritas rohani bukan untuk menguasai, tetapi untuk melayani.

Tuhan Yesus sendiri mengajarkan bahwa yang terbesar harus menjadi pelayan. Kepemimpinan dalam Kerajaan Allah tidak dibangun dengan arogansi, tetapi dengan kerendahan hati, kasih, dan keteladanan.

Jika seorang pemimpin lebih suka dihormati daripada mengasihi, lebih suka ditakuti daripada membina, maka ia sedang berjalan jauh dari hati Kristus.

Jemaat juga perlu bijak: hormati pemimpin rohani, tetapi jangan menuhankan manusia. Jangan karena gelar “pendeta” lalu semua sikap dianggap pasti benar. Pemimpin yang benar tidak anti kritik, tidak haus pujian, dan tidak merasa dirinya pusat gereja.

Gereja adalah milik Tuhan, bukan panggung kekuasaan pribadi. Jabatan rohani adalah amanah, bukan mahkota kesombongan. Siapa yang memimpin dengan semena-mena harus ingat: Tuhan yang memanggil juga Tuhan yang akan meminta pertanggungjawaban.

Sebab pemimpin sejati bukan yang paling ditakuti, tetapi yang paling setia melayani dalam takut akan Tuhan.

1 Petrus 5:2
Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.

#AtengJabar
#HambaTuhan
#PemimpinRohani