Salah satu strategi paling ampuh iblis bukan selalu melalui dosa besar yang terlihat, tetapi melalui perpecahan di dalam gereja.
Ketika jemaat saling curiga, pemimpin saling menjatuhkan, dan hati dipenuhi kepahitan, iblis tidak perlu bekerja terlalu keras—gereja sudah mulai runtuh dari dalam.
Iblis tahu bahwa gereja yang bersatu adalah gereja yang kuat. Karena itu, ia menabur benih kecil seperti salah paham, gosip, iri hati, ambisi pribadi, dan luka yang tidak diselesaikan. Hal-hal kecil ini jika dibiarkan akan berubah menjadi konflik besar yang menghancurkan pelayanan.
Banyak gereja tidak hancur karena serangan dari luar, tetapi karena luka dari dalam. Jemaat lebih sibuk membicarakan sesama daripada mendoakan sesama. Pelayan Tuhan lebih sibuk mempertahankan posisi daripada menjaga hati. Akhirnya, pelayanan kehilangan kuasa karena kasih mulai dingin.
Salah satu senjata iblis yang paling efektif adalah adu domba. Kalimat sederhana seperti “katanya pendeta bilang begini…” atau “jemaat itu tidak suka kamu…” bisa menjadi api yang membakar seluruh komunitas jika tidak disikapi dengan dewasa.
Karena itu, gereja harus menjaga kesatuan dengan rendah hati, komunikasi yang sehat, dan kasih yang tulus. Jangan mudah percaya gosip, jangan cepat tersinggung, dan jangan memelihara dendam. Orang yang dewasa rohani lebih memilih menyelesaikan masalah daripada menyebarkan masalah.
Kita harus sadar: setiap kali kita memelihara kebencian, iri hati, dan fitnah, kita sedang memberi ruang bagi pekerjaan iblis. Tetapi setiap kali kita memilih mengampuni, berdamai, dan membangun, kita sedang menjaga tubuh Kristus tetap kuat.
Gereja bukan tempat orang sempurna, tetapi tempat orang-orang yang belajar hidup dalam kasih. Jangan menjadi alat perpecahan, jadilah pembawa damai.
Sebab iblis senang melihat gereja terpecah, tetapi Tuhan dimuliakan ketika umat-Nya hidup dalam kesatuan.
“Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” Efesus 4:3